Diperlukan ’Human Capital’ untuk Bangkitkan SDM di Kabupaten Sampang

image
By usi_pasca On Tuesday, February 07 th, 2017 · no Comments · In

UNAIR NEWSHuman development (pembangunan manusia) di wilayah Kabupaten Sampang dinilai sangat harus diperhatikan, mengingat Sampang berada nomer tiga terbawah di Indonesia. Dengan posisi ini membuat Kabupaten Sampang perlu adanya perubahan. Pemerintah harus berpikir keras bagaimana membangun sumber daya yang bagus, karena sejak tahun 2006 hingga 2010 sudah dilakukan program pemerintah di Sampang, namun kenyataannya peningkatan di daerah ini sangat kecil.

Hal itu diungkapkan oleh Dwi Astutiek, S.Ag, M.Si., dalam ujian terbuka Program Doktor, di Gedung Pascasarjana Universitas Airlangga, Senin (6/12). Turut hadir sebagai undangan akademik dalam ujian Doktor ini, diantaranya Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI, Imam Nahrawi.

Di akhir ujian, Dewan Penguji program Doktor PSDM (Pengembangan Sumber Daya Manusia) Sekolah Pascasarjana UNAIR, menyatakan Promovendus Dwi Astutiek lulus dengan predikat Sangat Memuaskan.

Menurut promovendus, di Sampang ada fenomena luar biasa yang bisa dihubungkan dengan teori Human Capital, karena sebelumnya pemerintah sudah menawarkan perspektif pendidikan. “Fenomena tersebut sebenarnya dapat diubah, namun tidak semudah membalikkan telapak tangan,” tandas Dwi Astutik.

Dalam penelitiannya, perempuan kelahiran Madura ini menyampaikan bahwa beberapa persoalan disampang yang belum teratasi sampai saat ini yaitu pada bidang sosial, religi, budaya dan infrastruktur. Sehingga pada permasalahan infrastruktur yang membuat masyarakat Sampang kurang mendapatkan fasilitas sebagaimana mestinya. Misalnya fasilitas pendikan yang dirasa kurang. Akibat kurang, sehingga mengakibatkan banyak anak-anak belajar di masjid atau di surau-surau di dekat rumah mereka.

Didepan tim penguji, promovendus juga mengungkapkan fakta tentang karismatik seorang kiyai. Menurutnya, pengaruh seorang kiyai di Madura dan juga di Sampang ini sangat terlihat. Misalnya tuntunan untuk belajar di Pondok Pesantren, sehngga sejak dini anak-anak disana sudah dipondokkan.
”Selain itu kesalahan religion trap adalah tuntuan untuk menikah di usia dini, sehingga di sekitar Sampang itu, anak usia 12 sampai 13 tahun sudah dinikahkan, bahkan setara usia anak kelas IV Sekolah Dasar,” imbuh Dwi Astutiek.

Ia juga menyampaikan bahwa Pemberdayaan Sumber Daya Manusia di Sampang harus dilaksanakan secara bersamaan, baik secara personal maupun secara umum.

Menjawab pertanyaan Menpora Imam Nahrawi, tentang bagaimana peran muslimat di Madura atau di Sumenep, dan bagaimana seandainya Madura menjadi provinsi? Dijelaskan promovendus bahwa masalah utamanya tetap pada SDM.

“Misalnya kalau memang Madura ingin jadi Provinsi, maka masalah utamanya adalah pemberdayaan sumber daya” tandas Dwi ketika menjawab pertanyaan Imam Nahrawi. (*)

Penulis: Akhmad Janni
Editor: Bambang Bes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *